Sabtu, 18 Januari 2014
Computed Radiography ( CR )
1. PENGERTIAN
Computed radiography adalah proses merubah system analog pada konvensional radiografi menjadi digital radiografi ( Bambang Supriyono 2003:1). Pada sistem Computed Radiography data analog dikonversi ke dalam data digital pada saat tahap pembangkitan energi yang terperangkap di dalam Imaging Plate dengan menggunaklan laser, selanjutnya data digital berupa sinyal-sinyal ditangkap oleh Photo Multiplier Tube (PMT ) kemudian cahaya tersebut digandakan dan diperkuat intensitasnya setelah itu di ubah menjadi sinyal elektrik yang akan di konversi kedalam data digital oleh Analog Digital Converter (ADC).
Pada penggunaan radiografi konvensional digunakan
penggabung antara film radiografi dan screen, akan tetapi pada Komputer radiografi menggunakan imaging plate. Walaupun imaging plate secara fisik terlihat sama dengan screen konvensional tetapi memiliki fungsi yang sangat jauh berbeda, karena pada imaging plateberfungsi untuk menyimpan enersi sinar x kedalam photo stimulable phosphor dan menyampaikan informasi gambar itu ke dalam bentuk data digital.
2. KOMPONEN-KOMPONEN PADA COMPUTED RADIOGRAPHY (CR)
2.1 Kaset
Kaset pada Computed Radiography terbuat dari carbon fiberdan bagian belakang terbuat dari almunium, kaset ini berfungsi sebagaii pelindung dari Imaging Plate.
2.2 Imaging Plate
merupakan komponen utama pada sistem CR yang berfungsi menyimpan energi sinar x, imaging plate terbuat dari bahanPhotostimulabel phosphor. Dengan menggunakan Imaging Platememungkinkan proses gambar pada sistem komputer radiografi untuk melakukan berbagai modifikasi.
Proses yang terjadi pada Imaging Plate di mulai pada saat terkena penyinaran sinar-x , Imaging Plate akan menangkap energi dari sinar x kemudian disimpan oleh bahan phosphor yang akan dirubah menjadi data digital dengan Laser Scanner di dalam Image Reader.Setelah Imaging Plate melalui proses scanning, gambaran akan di tampilkan pada monitor komputer, sementara Imaging Plate masuk ke bagian data penghapusan (erasure) untuk dibersihkan sehingga dapat digunakan kembali untuk pasien yang lainnya.
2.3 Image Reader
Merupakan alat untuk mengolah gambaran laten pada Imaging Plate (IP) menjadi data digital.
2.4 Image Console
Berfungsi sebagai pembaca dan pengolahan gambar yang diperoleh dari IP dengan menggunakan optoelectronic laser scanner (helium neon (He-Ne) 632,8 nM). Dilengkapi dengan preview monitor untuk melihat radiograf yang dihasilkan, apakah goyang, terpotong dll.
2.5 Imager
Apabila foto dikehendaki untuk dicetak, maka gambar
dapat dikirim ke bagian imager untuk dicetak sesuai kebutuhan.
dapat dikirim ke bagian imager untuk dicetak sesuai kebutuhan.
3. PROSES PEMBENTUKAN GAMBAR / BAYANGAN PADA COMPUTED RADIOGRAPHY (CR)
Secara ringkas proses produksi gambar digital pada Computed Radiography adalah Imaging Plate (IP) diekspose dengan sinar-x, maka akan terbentuk bayangan laten pada IP. IP yang telah diekspose ini dimasukkan pada Image Plate Reader. IP kemudian di scan dengan helium-neon laser (emisi cahaya merah) sehingga kristal pada IP menghasilkan cahaya biru. Cahaya ini kemudian dideteksi oleh photosensor dan dikirim melalui Analog Digital Converter ke computer untuk diproses. Setelah gambar diperoleh, IP ditransfer ke bagian lain dari Imaging Plate Reader untuk dihapus agar IP tersebut dapat digunakan kembali. Gambar yang telah discan kemudian dimasukkan ke dalam komputer untuk diproses lalu ditampilkan pada monitor atau film (Ballinger, 1999).
Tahapan- tahapan pada imaging plate :
A. Exposure
Imaging Plate diletakkan didalam kaset, setelah itu kita lakukan eksposi dengan menggunakan sinar x. Sinar x yang menembus obyek akan mengalami atenulasi sehingga enersi dari sinar x tersebur ditangkap oleh imaging plate dalam bentuk data digital.
B. Stimulate
Bayanggan tersebut kemudian distimulasi dengan Photo Stimulable Phosphor (PSP) yang fungsinya untuk mengubah bayangan laten pada IP menjadi cahaya tampak.
C. Read (pembacaan)
Dengan menggunakan Photo Multiplier, cahaya tampak tersebut di tangkap dan digandakan serta diperkuat intensitasnya kemudian diubah menjadi sinyal elektrik. kemudian sinyal-sinyal ini direkonstruksikan menjadi sebuah gambaran yang dapat dilihat oleh layar monitor.
D. Erasure (penghapusan)
Setelah proses pembacaan seselai, data gambar pada imaging plate secara otomatis akan dihapus oleh Intense Light sehinggaimaging plate dapat digunakan kembali.
4. PERBANDINGAN COMPUTED RADIOGRAPHY DENGAN KONVENSIONAL
A. Keuntungan
Computed Radiography mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan radiografi konvensial, antara lain :
1. Angka pengulangan yang lebih rendah karena kesalahan-kesalahan faktor teknis.
2. Resolusi kontras yang lebih tinggi dan latitude eksposi yang lebih luas dibandingkan emulsi film radiografi.
3. Tidak memerlukan kamar gelap atau biaya untuk film ( jika gambar tidak ditampilkan dalam hard copy).
4. Kualitas gambar dapat ditingkatkan.
5. Penyimpanan gambar lebih mudah baik dengan hard copy maupun penyimpanan elektronik. ( Papp, 2006).
B. Kelebihan
Keterbatasan dari Computed Radiography antara lain :
1. Biaya yang cukup tinggi untuk IP, unit CR reader, hardware dan software untuk workstation.
2. Resolusi spatial rendah.
3. Pasien potensial untuk menerima radiasi yang overexposed. Computed Radiography (CR) dapat mengkompensasi overeksposure, sehingga radiografer terkadang member eksposi yang berlebih pada pasien.
4. Adanya artefak pada gambar akibat proses penghapusan IP yang kurang baik. ( Papp, 2006).
DAFTAR PUSTAKA
http://radiologi-xl.blogspot.com/2009/04/computed-radiography.html
sumber : http://lutfieblogs.blogspot.com
PERKEMBANGAN DUNIA RADIOLOGI
1. DICOM (DIGITAL IMAGING AND COMMUNICATIONS IN MEDICINE)
Yaitu sebuah sstandar yang digunakan untuk penyimpanan, pendistribusian, dan percetakan data dalam bidang medis
2. PACS (PICTURE ARCHIVING AND COMUNICATION SYSTEM)
Sebuah teknologi medis yang digunakan untuk menampung dan mendistribusikan data dari atau ke beberapa modalitas radiologi
3. dicomPACS (SOFTWARE)
Yaitu sejenis software inovatif dan cerdas yang dapat digunakan untuk mengelola, menajemen, mencetak data dari modalitas-modalitas yang terhubung
BEFORE dicomPACS
AFTER dicomPACS
dicomPACS VIEWER PACS SYSTEM
KEUNGGULAN dicomPACS
Yaitu sebuah sstandar yang digunakan untuk penyimpanan, pendistribusian, dan percetakan data dalam bidang medis
2. PACS (PICTURE ARCHIVING AND COMUNICATION SYSTEM)
Sebuah teknologi medis yang digunakan untuk menampung dan mendistribusikan data dari atau ke beberapa modalitas radiologi
3. dicomPACS (SOFTWARE)
Yaitu sejenis software inovatif dan cerdas yang dapat digunakan untuk mengelola, menajemen, mencetak data dari modalitas-modalitas yang terhubung
BEFORE dicomPACS
AFTER dicomPACS
dicomPACS VIEWER PACS SYSTEM
KEUNGGULAN dicomPACS
sumber : http://malfatih8.blogspot.com
DIGITAL RADIOGRAPHY (DR)
Digital radiografi
1. Pengertian
Digital radiografi adalah sebuah bentuk pencitraan sinar_X, dimana sensor-sensor sinar-X digital digunakan menggatikan film fotografi konvensional. Dan processing kimiawi digantikan dengan sistem komputer yang terhubung dengan monitor atau laser printer.
2. Komponen Digital Radiography
Sebuah sistem digital radiographi terdiri dari 4 komponen utama, yaitu X-ray source, detektor, Analog-Digital Converter, Computer, dan Output Device.
A. X-ray Source
Sumber yang digunakan untuk menghasilkan X-ray pada DR sama dengan sumber X-ray pada Coventional Radiography. Oleh karena itu, untuk merubah radiografi konvensional menjadi DR tidak perlu mengganti pesawat X-ray.
B. Image Receptor
Detektor berfungsi sebagai Image Receptor yang menggantikan keberadaan kaset dan film. Ada dua tipe alat penangkap gambar digital, yaitu Flat Panel Detectors (FPDs) dan High Density Line Scan Solid State Detectors.
1) Flat Panel Detectors (FPDs)
FPDs adalah jenis detektor yang dirangkai menjadi sebuah panel tipis. Berdasarkan bahannya, FPDs dibedakan menjadi dua, yaitu
a. Amorphous Silicon
Amorphous Silicon (a-Si) tergolong teknologi penangkap gambar tidak langsung karena sinar-X diubah menjadi cahaya. Dengan detektor-detektor a-Si, sebuah sintilator pada lapisan terluar detektor (yang terbuat dari Cesium Iodida atau Gadolinium Oksisulfat), mengubah sinar-X menjadi cahaya. Cahaya kemudian diteruskan melalui lapisan photoiodida a-Si dimana cahaya tersebut dikonversi menjadi sebuah sinyal keluaran digital. Sinyal digital kemudian dibaca oleh film transistor tipis (TFT’s) atau oleh Charged Couple Device (CCD’s). Data gambar dikirim ke dalam sebuah computer untuk ditampilkan. Detektor a-Si adalah tipe FPD yang paling banyak dijual di industri digital imaging saat ini.
b. Amorphous Selenium (a-Se)
Amorphous Selenium (a-Se) dikenal sebagai detektor langsung karena tidak ada konversi energi sinar-X menjadi cahaya. Lapisan terluar dari flat panel adalah elektroda bias tegangan tinggi. Elektrode bias mempercepat energi yang ditangkap dari penyinaran sinar X mealui lapisan selenium. Foton-foton sinar-X mengalir melalui lapisan selenium menciptakan pasangan lubang electron. Lubang-lubang elektron tersebut tersimpan dalam selenium berdasarkan pengisian tegangan bias. Pola (lubang-lubang) yang terbentuk pada lapisan selenium dibaca oleh rangakaian TFT atau Elektrometer Probes untuk diinterpretasikan menjadi citra.
2) High Density Line Scan Solid State device
Tipe penangkapan gambar yang kedua pada DR adalah High Density Line Scan Solid State device. Alat ini terdiri dari Photostimulable Barium Fluoro Bromide yang dipadukan dengan Europium (BaFlBr:Eu) tatu Fosfor Cesium Bromida (CsBr).
Detektor fosofor merekam energi sinar-X selama penyinaran dan dipindai (scan) oleh sebuah dioda laser linear untuk mengeluarkan energi yang tersimpan yang kemudian dibaca oleh sebuah penangkap gambar digital Charge Coupled Devices (CCD’s). Image data kemudian ditransfer oleh Radiografer untuk ditampilkan dan dikirim menuju work stasion milik radiolog.
C. Analog to Digital Converter
Komponen ini berfungsi untuk merubah data analog yang dikeluarkan detektor menjadi data digital yang dapat diinterpretasikan oleh komputer.
D. Komputer
Komponen ini berfungsi untuk mengolah data, manipulasi image, menyimpan data-data (image), dan menghubungkannya dengan output device atau work station.
E. Output Device
Sebuah sistem digital radiografi memiliki monitor untuk menampilkan gambar. Melaui monitor ini, radiografer dapat menentukan layak atau tidaknya gambar untuk diteruskan kepada work station radiolog.
Selain monitor, output device dapat berupa laser printer apabila ingin diperoleh data dalam bentuk fisik (radiograf). Media yang digunakan untuk mencetak gambar berupa film khusus (dry view) yang tidak memerlukan proses kimiawi untuk mengasilkan gambar.
Gambar yang dihasilkan dapat langsung dikirimkan dalam bentuk digital kepada radiolog di ruang baca melaui jaringan work station. Dengan cara ini, dimungkinkan pembacaan foto melaui teleradiology.
Pesawat Digital Radiography


Gambar Hasil Pencitraan dengan DR
2. Prinsip Kerja
Prinsip kerja Digital Radiography (DR) atau (DX) pada intinya menangkap sinar-X tanpa menggunakan film. Sebagai ganti film sinar X, digunakan sebuah penangkap gambar digital untuk merekam gambar sinar X dan mengubahnya menjadi file digital yang dapat ditampilkan atau dicetak untuk dibaca dan disimpan sebagai bagian rekam medis pasien.

Skema Prinsip Kerja DR
4. Kelebihan dan Kekurangan Digital Radiography
Kelebihan yang dimiliki digital radiography antara lain:
a. Cepat dan efisien karena tidak membutuhkan kamar gelap untuk pencetakan gambar.
b. Hasil lebih akurat.
c. Sistem sinar-X (pesawat) dapat tetap digunakan dengan dilakukan moifikasi.
d. Tidak membutuhkan ahli komputer karena perangkat lunak yang digunakan untuk mengatur image mudah digunakan.
e. Angka penolakan film dapat ditekan.
f. Dapat digunakan untuk radiografi mobile X-Ray unit dengan detektor digital (flat digital).
Kekurangan digital radiography antara lain :
a. Dibutuhkan dana yang besar untuk mengganti fasilitas radiografi konvensional menjadi digital.
b. Kesalahan faktor eksposi yang terlalu parah tidak dapat diperbaiki.
c. Walaupun diklaim dapat mengurangi dosis yang diterima pasien, digital radiografi justru lebih sering meningkatkan dosis pasien, karena
- Over eksposure tidak akan terdeteksi (dapat dikurangi dengan mudah dalam proses komputer). Sehingga radiografer cenderung menambah faktor eksposi.
- Pengulangan pemeriksaan (sebelum dicetak) tidak akan menambah jumlah film yang digunakan, sehingga menurunkan tingkat kehati-hatian radiografer.
Digital radiografi adalah sebuah bentuk pencitraan sinar_X, dimana sensor-sensor sinar-X digital digunakan menggatikan film fotografi konvensional. Dan processing kimiawi digantikan dengan sistem komputer yang terhubung dengan monitor atau laser printer.
2. Komponen Digital Radiography
Sebuah sistem digital radiographi terdiri dari 4 komponen utama, yaitu X-ray source, detektor, Analog-Digital Converter, Computer, dan Output Device.
A. X-ray Source
Sumber yang digunakan untuk menghasilkan X-ray pada DR sama dengan sumber X-ray pada Coventional Radiography. Oleh karena itu, untuk merubah radiografi konvensional menjadi DR tidak perlu mengganti pesawat X-ray.
B. Image Receptor
Detektor berfungsi sebagai Image Receptor yang menggantikan keberadaan kaset dan film. Ada dua tipe alat penangkap gambar digital, yaitu Flat Panel Detectors (FPDs) dan High Density Line Scan Solid State Detectors.
1) Flat Panel Detectors (FPDs)
FPDs adalah jenis detektor yang dirangkai menjadi sebuah panel tipis. Berdasarkan bahannya, FPDs dibedakan menjadi dua, yaitu
a. Amorphous Silicon
Amorphous Silicon (a-Si) tergolong teknologi penangkap gambar tidak langsung karena sinar-X diubah menjadi cahaya. Dengan detektor-detektor a-Si, sebuah sintilator pada lapisan terluar detektor (yang terbuat dari Cesium Iodida atau Gadolinium Oksisulfat), mengubah sinar-X menjadi cahaya. Cahaya kemudian diteruskan melalui lapisan photoiodida a-Si dimana cahaya tersebut dikonversi menjadi sebuah sinyal keluaran digital. Sinyal digital kemudian dibaca oleh film transistor tipis (TFT’s) atau oleh Charged Couple Device (CCD’s). Data gambar dikirim ke dalam sebuah computer untuk ditampilkan. Detektor a-Si adalah tipe FPD yang paling banyak dijual di industri digital imaging saat ini.
b. Amorphous Selenium (a-Se)
Amorphous Selenium (a-Se) dikenal sebagai detektor langsung karena tidak ada konversi energi sinar-X menjadi cahaya. Lapisan terluar dari flat panel adalah elektroda bias tegangan tinggi. Elektrode bias mempercepat energi yang ditangkap dari penyinaran sinar X mealui lapisan selenium. Foton-foton sinar-X mengalir melalui lapisan selenium menciptakan pasangan lubang electron. Lubang-lubang elektron tersebut tersimpan dalam selenium berdasarkan pengisian tegangan bias. Pola (lubang-lubang) yang terbentuk pada lapisan selenium dibaca oleh rangakaian TFT atau Elektrometer Probes untuk diinterpretasikan menjadi citra.
2) High Density Line Scan Solid State device
Tipe penangkapan gambar yang kedua pada DR adalah High Density Line Scan Solid State device. Alat ini terdiri dari Photostimulable Barium Fluoro Bromide yang dipadukan dengan Europium (BaFlBr:Eu) tatu Fosfor Cesium Bromida (CsBr).
Detektor fosofor merekam energi sinar-X selama penyinaran dan dipindai (scan) oleh sebuah dioda laser linear untuk mengeluarkan energi yang tersimpan yang kemudian dibaca oleh sebuah penangkap gambar digital Charge Coupled Devices (CCD’s). Image data kemudian ditransfer oleh Radiografer untuk ditampilkan dan dikirim menuju work stasion milik radiolog.
C. Analog to Digital Converter
Komponen ini berfungsi untuk merubah data analog yang dikeluarkan detektor menjadi data digital yang dapat diinterpretasikan oleh komputer.
D. Komputer
Komponen ini berfungsi untuk mengolah data, manipulasi image, menyimpan data-data (image), dan menghubungkannya dengan output device atau work station.
E. Output Device
Sebuah sistem digital radiografi memiliki monitor untuk menampilkan gambar. Melaui monitor ini, radiografer dapat menentukan layak atau tidaknya gambar untuk diteruskan kepada work station radiolog.
Selain monitor, output device dapat berupa laser printer apabila ingin diperoleh data dalam bentuk fisik (radiograf). Media yang digunakan untuk mencetak gambar berupa film khusus (dry view) yang tidak memerlukan proses kimiawi untuk mengasilkan gambar.
Gambar yang dihasilkan dapat langsung dikirimkan dalam bentuk digital kepada radiolog di ruang baca melaui jaringan work station. Dengan cara ini, dimungkinkan pembacaan foto melaui teleradiology.
Pesawat Digital Radiography

Gambar Hasil Pencitraan dengan DR
2. Prinsip Kerja
Prinsip kerja Digital Radiography (DR) atau (DX) pada intinya menangkap sinar-X tanpa menggunakan film. Sebagai ganti film sinar X, digunakan sebuah penangkap gambar digital untuk merekam gambar sinar X dan mengubahnya menjadi file digital yang dapat ditampilkan atau dicetak untuk dibaca dan disimpan sebagai bagian rekam medis pasien.

Skema Prinsip Kerja DR
4. Kelebihan dan Kekurangan Digital Radiography
Kelebihan yang dimiliki digital radiography antara lain:
a. Cepat dan efisien karena tidak membutuhkan kamar gelap untuk pencetakan gambar.
b. Hasil lebih akurat.
c. Sistem sinar-X (pesawat) dapat tetap digunakan dengan dilakukan moifikasi.
d. Tidak membutuhkan ahli komputer karena perangkat lunak yang digunakan untuk mengatur image mudah digunakan.
e. Angka penolakan film dapat ditekan.
f. Dapat digunakan untuk radiografi mobile X-Ray unit dengan detektor digital (flat digital).
Kekurangan digital radiography antara lain :
a. Dibutuhkan dana yang besar untuk mengganti fasilitas radiografi konvensional menjadi digital.
b. Kesalahan faktor eksposi yang terlalu parah tidak dapat diperbaiki.
c. Walaupun diklaim dapat mengurangi dosis yang diterima pasien, digital radiografi justru lebih sering meningkatkan dosis pasien, karena
- Over eksposure tidak akan terdeteksi (dapat dikurangi dengan mudah dalam proses komputer). Sehingga radiografer cenderung menambah faktor eksposi.
- Pengulangan pemeriksaan (sebelum dicetak) tidak akan menambah jumlah film yang digunakan, sehingga menurunkan tingkat kehati-hatian radiografer.
TEKNIK RADIOGRAFI DENTAL
A. Anatomi dan Fisiologi Gigi Manusia
Jumlah gigi manusia dewasa = 32 buah, terdiri dari 16 buah pada tiap-tiap rahang, yaitu :
- 2 buah Insisivus
- 1 buah caninus
- 2 buah premolar
- 3 buah molar
Gigi berfungsi sebagai :
- Mengunyah makanan secara mekanis
- Membantu memperjelas bunyi vokal
- Sebagai keindahan (estetika)
Gigi terdiri dari tiga bagian :
1. Puncak gigi / apex / corona / crown
2. Leher gigi / colum
3. Akar / radices
Gigi kedelapan adalah gigi yang terakhir tumbuh disebut gigi bijaksana atau WISDOM TEETH
Gigi susu (Deciduous teeth) = gigi yang belum tetap/ permanen
Ciri ciri gigi :
1. Insisivus :
· Tajam
· Akarnya satu
· Biasanya kecil kecil
2. Caninus :
· Syarat pemotretan yang bagus terbawa juga puncaknya terbawa
· Fungsinya untuk mengoyak ngoyak
3. Premolar :
· Puncaknya lebih tebal dari caninus
· Akarnaya pendek
· Fungsi nya untuk mengunyah
4. Molar :
· Makin belakang makin tebal mahkota nya
· Akarnya pendek
· Akarnya lebih dari 1 yaitu 2 atau 3
Rahang bawah akarnya 2
Rahang atas akarnya 3
B. Indikasi Pemeriksaan Radiografi Dental dan Panoramik
· Impacted (Impaksi)
Impacted atau impaksi merupakan gangguan yang terjadi pada gigi dimana gigi yang baru tumbuh mendesak gigi di depannya yang sudah lebih dahulu tumbuh. Impaksi biasanya terjadi pada molar 3 yang mendesak molar 2. Ini biasanya terjadi karena pasien memiliki mandibula yang pendek sehingga molar 3 tidak mendapat cukup tempat untuk tumbuh.
· Caries Dentis
Caries dentis dalam bahasa umumnya adalah gigi berlubang. Caries ini biasa terjadi akibat pengeroposan pada gigi yang penyebabnya banyak hal, bisa karena sisa makanan yang tertinggal, bakteri, dll.
· Cystisis
Cystisis adalah sebuah kelainan dimana bagian mandibula yang menjadi tempat untuk radix (akar) gigi mengalami kekosongan.
· Susunan Gigi Yang Tidak Rata
Susunan gigi seharusnya tumbuh secara rata. Tetapi banyak juga orang yang memiliki susunan gigi yang tidak rata. Ini kebanyakan merupakan bawaan sejak lahir, tetapi ada juga yang diakibatkan karena kebiasaan makan saat kecil atau juga karena kecelakaan.
· Gingivitis (Radang Gusi)
· Pyarrhoe (Nanah Disekat Gigi)
· Admantinoma (Tumor maligna yang ada kaitannya dengan gigi) : tumor di mandibula
· Fracture (Fraktur akibat benturan dan trauma lainnya)
· Resonal spesi (Infeksi kronis sekat gigi)
· Alvendar squestrum (Kondisi dimana terdapat fragmen tulang dan gigi yang mati)
· Ortho dentis (Gigi gigi yang abnormal)
· Hypero ementosis (Terjadinya penebalan sekunder pada permukaan gigi)
· Erosi Enamel (Erosi lapisan Enamel)
· Orteititis (Infeksi Tulang)
· Peri epical infection
C. Film pada Radiografi Dental
Film yang digunakan adalah film khusus untuk dental radiography, yang merupakan single emulsi. Untuk mempermudah positioning film dental, biasanya digunakan sebuah alat yang disebut "Bitewing".
Film dental memiliki karakteristik sebagai berikut :
· Termasuk kelompok nonscreen film
· Double sided emulsion (emulsi nya timbal balik)
· Berada dalam amplop
· Terdapat “Lead Foll” (kertas timbal balik)
· Memiliki Pip Point diletakkan dipuncak (appex)
· Ukuran 3x4 cm
· Film base cellulose tricetat
· Thickness = 6/1000 inch
· Water proof (kedap air)
· Flexible (dapat ditekuk)
Hal yang perlu diperhatikan dalam memasang dental film :
1. Pip point diletakkan dipuncak, karena :
· Untuk mengidentifikasi
· Untuk menjepit hanger
Rahang diatas : pip point diletakkan dibawah
Rahang bawah : pip point diletakkan diatas
2. Lead foil dibelakang bagian gigi berfungsi untuk menjaga film dari radiasi hambur balik (back sceater).
3. Fleksible dapat ditekuk sesuai dengan bentuk gigi. Rahang bawah lebih susah daripada atas karena mentok atau sakit.
Dan sudut proyeksi yang diberikan pada setiap objek berbeda-beda tergantung objek apa yg diperiksa (apakah rahang atas atau bawah).
D. Teknik Positioning
TEKNIK PARALLEL
Teknik parallel mengandung arti bahwa film X-Ray diposisikan parallel dengan sumbu panjang gigi. CR radiasi sinar-x melewati sudut yang tepat sehingga tegak lurus pada gigi.
Kelebihan teknik parallel :
· Mengurangi magnifikasi, elongation, foreshortening, distorsi, serta kekurang tajaman citra gambaran.
· Penaikan FSD mengurangi dosis radiasi, serta meningkatkan kualitas citra dengan mengurangi efek penumbra.
· Pengurangan efek-efek distorsi due to kelengkungan film atau image receptor.
Kekurangan teknik parallel :
· Hanya bias digunakan untuk FFD yang pendek ( < 20cm ).
· Gambaran anatomi terbatas.
Parallel technique :
Titik-titik yang perlu diperhatikan pada saat positioning :
E.Teknik Pemotretan pada Dental
1. INSISIVUS RAHANG ATAS
CP : pertengahan insisivus rahang atas
CR : 600 caudally
FFD : 30 cm
2. INSISIVUS RAHANG BAWAH
Atur tabung pesawat gigi dengan bidang oklusal bawah sehingga mebentuk sudut 25° - 30° Cranially.
Film diposisikan memanjang.
FE : Pada pesawat dental unit ini pengaturan faktor cukup dengan mengatur secondnya saja. Dengan pengaturan second, secara otomatis kV dan mAsnya sudah menyesuaikan. Untuk gigi incicivus dan caninus, second yang dipilih 3 atau 4 second, tergantung tebalnya objek.
Sentrasikan sinar pada simfisis menti. CR 20°-30° cranially. CP
pada pertengahan incicivus, 1 cm diatas lower border dari mandibula.
kV : 40 – 150 kV
mA : 15 mA
Fokus : kecil
Pengaturan pasien
Setelah pengaturan faktor eksposi maka pasien dipersilahkan duduk, daitur posisinya sesuai dengan obyek yang diperiksa, lalu masukkan film ke dalam mulut pasien, lalu atur letak film pada gigi yang diperiksa.
kriteria gambaran
· Seluruh gambaran gigi harus tergambar pada film.
· Tidak terjadi horizontal overlapping (yang menyebabkan ketidakjelasan akar lanjutan).
· Harus terlihat densitas dan kontras yang jelas antara enamel dan dentin gigi.
· Tidak ada bekas roller
· Tidak terdapat fog film.
· Tidak terdapat kontaminasi, serta percikan unsure kimi.
· Tidak terjadi elongation maupun foreshortening pada gambaran gigi.
· Harus terlihat 3mm tulang periapical yang memungkinkan penilaian terhadap anatomi yang menyentuh langit-langit.
3. CANINUS RAHANG ATAS
Pemotretan gigi Caninus rahang atas :
1) Atur tabung pesawat gigi dengan bidang oklusal atas sehingga membentuk sudut 50° caudally.
2) Film diposisikan memanjang.
3) Sentrasi pada ala of the nose.

Bagan 2pemeriksaan caninus rahang atas
4. PREMOLAR RAHANG ATAS
I. Teknik pemotretan
o Film dimasukkan ke dalam mulut pada posisi melintang tepat di premolar rahang atas
o Atur tabung dengan arah sinar 40o caudally ( tube ke lower occusal plane )
o Sentrasi pada garis imaginer pertengahan antara inner canthus dan outer canthus
II. Teknik radiografi
· Posisi pasien : pasien duduk tegak
· Posisi objek : sejajarkan dengan AML dengan film, film berada didalam mulut jari menganjal film
· Kv : 60 Kv
· mAS : 6
· Central ray : 40o caudally
· Central point : pertengahan premolar
III. Kriteria gambar
o Terlihat bagian crown, corpus dan akar dari premolar rahang atas
o tidak terjadi superposisi
o terjadi elongasi
5. PREMOLAR RAHANG BAWAH
1. Teknik pemotretan :
· Tube ke lower occlusal plane membentuk sudut 10⁰
· Film diposisikan melintang
· Sentrasi pada batas bawah mandibula sejajar dengan pertengahan anatar inner dan outer canthus.
2. Kriteria Gambar : Terlihat bagian apex sampai ke radices, maka jika terjadi fraktur akan terlihat.
6. MOLAR RAHANG ATAS
Ø Posisi Pasien :
Pasien Duduk ditempat yang telah disediakan
Ø Posisi Objek :
- Film posisikan melintang
- Sentrasi setinggi tulang zygomaticum daerah yang diperiksa
- Atur AML (Acanthion Meatal Line) sejajar lantai
Ø Central Ray :
300 Caudally (ke arah kaki
Ø Central Point :
Pertengahan Molar 1 dan Molar 2
Ø Kriteria Gambar :
Tampak dari os zygoma
Tampak dari os maxillary
7. MOLAR RAHANG BAWAH
· Pemeriksaan gigi :
1. Intra Oral : Pemeriksaan gigi bagian dalam dengan memasukkan film ke dalam mulut (rahang atas dan rahang bawah)
2. Ekstra Oral : Pemeriksaan gigi bagian luar dengan radiografi biasa/ panoramik.
· Teknik Radiografi Gigi Rahang Bawah :
1. Untuk teknik vertikal pasien duduk pada kursi khusus (dental chair).
2. Upper position line sejajar upper occlusal plane.
3. Perhatikan penyudutan tabung sinar x vertikal angulasi positif (caudal).
4. Perhatikan horizontal angulasi.
5. Persiapkan bahan dan alat : letak film, penyudutan dan faktor eksposi disiapkan sebelum eksposi dimulai.
6. Persiapan :
Tangan radiografer harus bersih
Gigi palsu pasien yang tidak permanen / benda lainnya harus dibuka
7. Metode bisecting digunakan
8. Produksi radiasi harus diperhatikan.
· Teknik Pemotretan Gigi Rahang Bawah :
· MOLAR
1. Tube kelower occlusal plane membentuk sudut 0 derajat.
2. Film diposisikan melintang.
3. Sentrasi pada mandibula sejajar outer canthus.
Langganan:
Postingan (Atom)










